Sejumlah anggota Rumah Saraswati berdiskusi dalam suasana santai di Bandung. Pertemuan tersebut membahas gagasan kemandirian ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan perubahan sosial berbasis komunitas.
BANDUNG I LIBAS86.COM — Rumah Saraswati menilai anarkisme tidak semestinya selalu dipahami sebagai kerusuhan, kekerasan, atau perusakan fasilitas publik. Bagi organisasi tersebut, gagasan anarkisme juga dapat dipahami melalui nilai kemandirian, kesetaraan, solidaritas, dan kemampuan masyarakat membangun kehidupan secara kolektif.
Ketua Rumah Saraswati, Diah Permata Saraswati, mengatakan stigma terhadap anarkisme sering kali muncul karena tindakan destruktif sejumlah oknum. Menurutnya, pemahaman tersebut perlu dilihat secara lebih luas agar gagasan mengenai kemandirian masyarakat tidak berhenti pada stereotip kekerasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Anarkisme itu bukan berarti kita turun ke jalan lalu melakukan perusakan fasilitas publik. Itu pemahaman yang keliru dan terdegradasi oleh tindakan oknum,” ujar Diah dalam diskusi di Bandung, Kamis (13/8).
Diah mengatakan, salah satu bentuk penerapan gagasan tersebut dapat dilakukan melalui kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Menurutnya, penguatan keterampilan, pengelolaan potensi lokal, serta kerja bersama dapat meningkatkan daya tawar masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bantuan maupun mekanisme ekonomi yang dinilai tidak selalu berpihak kepada warga.
Ia juga menyoroti persoalan ketimpangan dan korupsi dalam tata kelola negara. Diah berpandangan, penguatan ekonomi komunitas dapat menjadi salah satu upaya membangun ketahanan sosial masyarakat. “Kemandirian ini adalah bentuk perlawanan terhadap negara yang korup,” katanya.
Melalui pendampingan komunitas lokal, Rumah Saraswati mendorong masyarakat mengembangkan potensi ekonomi dan keterampilan secara bersama. Bagi Diah, perubahan sosial tidak harus selalu diwujudkan melalui aksi konfrontatif, tetapi juga dapat dibangun dari bawah melalui ekonomi yang mandiri, solidaritas warga, dan kemampuan komunitas mengelola kehidupannya secara produktif.
Penulis : LBS86/ REL
Editor : REDAKSI















































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































