Jakarta, LIBAS86.COM – Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menegaskan bahwa perjalanan Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara Eropa bukanlah bentuk pemborosan anggaran negara, melainkan strategi diplomasi besar untuk menjaga keseimbangan geopolitik Indonesia di tengah dinamika global. Menurutnya, kritik yang hanya melihat biaya perjalanan dinilai terlalu parsial dan mengabaikan kepentingan nasional jangka panjang.
Sugiat menjelaskan, kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis, Austria, dan Hungaria pada akhir Mei 2026 merupakan bagian dari diplomasi ofensif dalam politik luar negeri bebas aktif Indonesia. Langkah tersebut bertujuan memperkuat hubungan strategis, membuka peluang investasi hilirisasi nikel, hingga memperkokoh kerja sama pertahanan nasional. “Indonesia tidak sekadar berkunjung. Presiden Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik menjadi investasi nyata,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Menurut Sugiat, Prancis memiliki posisi penting sebagai kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat. Kedekatan diplomatik dengan Presiden Emmanuel Macron disebut menjadi faktor strategis untuk memperluas akses Indonesia terhadap teknologi pertahanan modern. Sementara Austria dipandang sebagai pusat manufaktur presisi Eropa Tengah, sedangkan Hungaria menjadi salah satu basis utama pengembangan industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di kawasan Uni Eropa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Legislator DPR RI dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara III itu juga menyoroti posisi Indonesia sebagai pemilik sekitar 65 persen cadangan nikel dunia. Dalam konteks transisi global menuju kendaraan listrik, ia menilai momentum kerja sama dengan negara-negara Eropa harus dimanfaatkan sebelum teknologi baterai berkembang ke bahan non-nikel. Karena itu, rangkaian kunjungan maraton Presiden Prabowo dinilai sebagai langkah strategis untuk mengunci investasi hilirisasi nasional.
Selain sektor ekonomi, Sugiat menyebut diplomasi Presiden Prabowo juga berkaitan erat dengan penguatan pertahanan negara dan pengamanan kepentingan nasional, termasuk menjaga stabilitas kawasan serta posisi Indonesia di Laut Natuna Utara. Menurutnya, hubungan internasional yang dibangun Indonesia saat ini mencerminkan politik bebas aktif yang tidak berpihak pada kekuatan global tertentu, namun tetap menjaga kepentingan nasional secara tegas dan terukur.
“Presiden Prabowo sedang menjalankan strategi hedging geopolitik tingkat tinggi agar Indonesia tidak dapat diabaikan oleh negara-negara besar dunia. Hasil diplomasi ini bukan sesuatu yang bisa diukur dalam hitungan minggu, tetapi fondasi jangka panjang bagi ekonomi, teknologi, dan pertahanan Indonesia,” tegas Sugiat.
Penulis : LBS86/ REL
Editor : REDAKSI
























































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































