Ketua SMSI Kota Medan Irwan Manalu bersama warga dan sejumlah pihak dalam momentum hadirnya Jembatan Perintis di Kelurahan Mangga, Medan Tuntungan, setelah hampir 20 tahun warga menghadapi keterbatasan akses dan risiko saat menyeberangi sungai.
MEDAN I LIBAS86.COM – Selama hampir dua dekade, bagi warga Jalan Sawit I dan Gang Sejuk, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan, sungai bukan sekadar aliran air. Ia menjadi batas antara rumah dan sekolah, antara aktivitas sehari-hari dan rasa takut. Setiap kali hujan deras turun, para orang tua kembali dihadapkan pada pilihan sulit: menyeberangi arus yang deras demi mengantar anak ke sekolah atau mengambil jalan memutar yang jauh. Tak jarang, anak-anak harus digendong agar bisa melewati sungai dengan selamat.
Di tengah persoalan yang berlangsung bertahun-tahun itu, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Medan, Irwan Manalu, melihat sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai persoalan biasa. Bersama rekan-rekan wartawan, Irwan mengetahui kesulitan warga dan kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada Ketua Umum Yayasan Lansia Merdeka Indonesia (YLMI), Hartono Tjandra. Dari situlah cerita panjang warga mulai menemukan jalan keluar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa yang dilakukan Irwan sebenarnya sederhana: mendengar suara warga, melihat persoalan mereka, kemudian menyampaikannya kepada pihak yang memiliki kepedulian dan kemampuan untuk membantu. Namun informasi itu ternyata tidak berhenti sebagai sebuah cerita. Hartono Tjandra bersama YLMI dan sejumlah donatur kemudian bergerak hingga lahirlah Jembatan Perintis yang kini menjadi akses penting bagi masyarakat.
Saat peresmian Jembatan Perintis pada 14 September 2026, di tengah guyuran hujan, Hartono Tjandra secara terbuka menyebut nama Irwan Manalu. Ia mengatakan aspirasi warga tersebut diperoleh dari Irwan selaku Ketua SMSI Kota Medan dan rekan-rekan wartawan, serta menyebut pembangunan jembatan itu berawal dari informasi yang disampaikan mereka.
Bagi warga, jembatan itu jauh lebih besar maknanya daripada sekadar konstruksi beton. Di atas jembatan itu ada langkah kaki anak-anak menuju sekolah, ada kecemasan para ibu yang akhirnya berubah menjadi rasa lega, dan ada harapan keluarga yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan risiko. Kini, ketika hujan turun dan air sungai meninggi, orang tua tidak lagi harus menggendong anaknya menyeberangi arus seperti yang selama ini mereka lakukan.
Kisah Jembatan Perintis akhirnya menjadi pengingat bahwa kerja jurnalistik tidak selalu berhenti pada berita yang terbit di halaman media. Dalam kasus ini, sebuah informasi yang disampaikan Ketua SMSI Kota Medan Irwan Manalu menjadi titik awal lahirnya kepedulian, gotong royong dan sebuah fasilitas yang langsung dirasakan masyarakat. Dua puluh tahun warga menunggu, dan kini anak-anak itu memiliki jalan yang lebih aman untuk mengejar masa depan. Sebuah jembatan berdiri, tetapi yang sesungguhnya sedang dibangun adalah harapan.
Penulis : LBS86/ RYANT GOBEL
























































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































