SEMA 4 Tahun 2026 Batasi Upaya Hukum Putusan Bebas, Jupri Wandy: Jangan Korbankan Keadilan demi Kepastian

- Penulis

Kamis, 3 September 2026 - 00:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gedung Mahkamah Agung RI dengan palu hakim dan timbangan keadilan, menggambarkan perdebatan mengenai SEMA Nomor 4 Tahun 2026 dan pembatasan upaya hukum terhadap putusan bebas.

MADINA I LIBAS86.COM – Penerapan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2026 yang membatasi upaya hukum terhadap putusan bebas memunculkan perdebatan serius mengenai keseimbangan antara kepastian hukum, pencarian kebenaran, dan keadilan dalam sistem peradilan pidana.

Pandangan tersebut disampaikan Jupri Wandy Banjarnahor, SH, MH, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU). Menurut Jupri, kepastian hukum memang merupakan prinsip penting, termasuk memberikan perlindungan kepada terdakwa yang telah dinyatakan bebas. Namun, persoalan dapat muncul apabila putusan bebas ternyata mengandung kekeliruan serius dalam menilai fakta, alat bukti maupun penerapan hukum.

“Hakim, sebagaimana manusia pada umumnya, tidak tertutup kemungkinan melakukan kekeliruan. Kesalahan dapat terjadi dalam menilai fakta, alat bukti, atau menerapkan hukum,” ujar Jupri dalam kajiannya. Karena itu, menurutnya, keberadaan mekanisme pemeriksaan secara bertingkat, mulai dari tingkat pertama, banding hingga kasasi, memiliki fungsi penting sebagai ruang pengawasan dan koreksi terhadap putusan pengadilan.

Jupri menilai persoalan keadilan dalam perkara pidana tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan terdakwa. Dalam perkara pembunuhan, misalnya, terdapat keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya. Begitu pula dalam perkara korupsi, terdapat kepentingan masyarakat dan negara yang harus dipertimbangkan. “Apakah pencari keadilan hanya terdakwa?” menjadi salah satu pertanyaan penting yang menurutnya perlu dikaji dalam melihat pembatasan upaya hukum terhadap putusan bebas.

Baca Juga :  Proyek Gedung Kejati Sumut Disorot, Pengamat Minta Transparansi Sumber Dana dan Tata Kelola

Meski demikian, Jupri menegaskan dirinya tidak berpandangan bahwa seluruh putusan bebas harus selalu dapat dipersoalkan tanpa batas. Kepastian hukum tetap diperlukan agar seseorang tidak terus-menerus berada dalam proses hukum. Persoalannya, kata dia, adalah bagaimana menemukan titik keseimbangan antara kepastian hukum dengan kebutuhan untuk mengoreksi putusan yang benar-benar mengandung kekeliruan mendasar. “Jangan sampai hukum menjadi terlalu cepat memberikan kepastian, tetapi terlalu lambat atau bahkan tidak mampu lagi memberikan keadilan,” tegasnya.

Menurut Jupri, mekanisme koreksi dalam sistem peradilan tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap hakim tingkat pertama. Sebaliknya, banding dan kasasi merupakan instrumen penting untuk menjaga kualitas putusan sekaligus memastikan penerapan hukum dapat diuji secara objektif. “Hakim dapat keliru, jaksa dapat keliru, bahkan sistem dapat keliru. Karena itu, mekanisme koreksi bukanlah ancaman terhadap keadilan, melainkan salah satu cara untuk menjaganya,” ujarnya.

Baca Juga :  BASCAM Desak Polda Sumut Ambil Alih Kasus Scammer Tanjungbalai, Soroti Pemeriksaan Pemilik Rumah

Perdebatan mengenai SEMA Nomor 4 Tahun 2026 dan putusan bebas pada akhirnya bukan hanya menyangkut kepentingan terdakwa maupun Jaksa Penuntut Umum. Lebih luas, isu tersebut menyentuh bagaimana sistem peradilan Indonesia menjaga tiga prinsip sekaligus, yakni kepastian hukum, kebenaran dan keadilan. Sebuah perkara memang harus memiliki akhir, tetapi sebelum sebuah putusan benar-benar menjadi akhir dari seluruh proses, menurut Jupri, ruang untuk memastikan tidak adanya kekeliruan serius tetap menjadi persoalan yang layak dipertimbangkan. “Jangan sampai demi kepastian hukum, keadilan justru dikorbankan.”

Penulis : LBS86/ REL

Editor : REDAKSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

GANN Medan Desak Bandar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamine Dihukum Maksimal, Jaringan Internasional Harus Dibongkar!
LBH FORWAKA Sumut Desak Isu Aswas Kejati Sumut Diamankan Kejagung Dilaporkan ke Polisi, Dugaan Serangan Balik Disorot
Isu Aswas Kejati Sumut Diamankan Kejagung Dibantah, Forwaka: Jangan Rusak Karakter Pejabat dengan Informasi Belum Terverifikasi
Perkuat Kinerja Penegakan Hukum, Kajari Nias Selatan Imam Fauzi Lantik 8 Pejabat Eselon V
Peduli Keselamatan Pengendara, Kapolda Sumut Turun ke Jalan Bagikan Helm dan Masker
Kejari Tanjungbalai Tetapkan Dua Tersangka Korupsi KUR BRI, Kerugian Negara Tembus Rp15,65 Miliar
Tenang Memimpin, Tegas Menjaga Pers: Irfandi Dorong FORWAKA Sumut Lebih Profesional dan Berdaya
Forwaka Dairi Resmi Dilantik, Irfandi Tegaskan Profesionalisme Jurnalis dan Perlindungan Hukum Wartawan
Berita ini 0 kali dibaca
SEMA Nomor 4 Tahun 2026 dan putusan bebas menjadi sorotan dalam kajian hukum Jupri Wandy Banjarnahor. Ia menilai kepastian hukum harus berjalan seimbang dengan pencarian kebenaran dan keadilan, termasuk tetap mempertimbangkan ruang koreksi terhadap putusan yang diduga mengandung kekeliruan serius.

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:37 WIB

GANN Medan Desak Bandar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamine Dihukum Maksimal, Jaringan Internasional Harus Dibongkar!

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:13 WIB

LBH FORWAKA Sumut Desak Isu Aswas Kejati Sumut Diamankan Kejagung Dilaporkan ke Polisi, Dugaan Serangan Balik Disorot

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:26 WIB

Isu Aswas Kejati Sumut Diamankan Kejagung Dibantah, Forwaka: Jangan Rusak Karakter Pejabat dengan Informasi Belum Terverifikasi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:33 WIB

Perkuat Kinerja Penegakan Hukum, Kajari Nias Selatan Imam Fauzi Lantik 8 Pejabat Eselon V

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:57 WIB

Peduli Keselamatan Pengendara, Kapolda Sumut Turun ke Jalan Bagikan Helm dan Masker

Berita Terbaru