Mandailing Natal, LIBAS86.COM – Sebanyak 24 siswa MTsS Ar-Riyadhul Mukhlisin mendapat penanganan medis di Puskesmas setelah mengalami keluhan mual dan keringat dingin usai mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para siswa telah mendapatkan penanganan medis dan diperbolehkan pulang. Hingga kini, belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan bahwa keluhan kesehatan tersebut disebabkan oleh makanan MBG.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Aliansi Mahasiswa Pemuda Mandailing Natal (AMPM Madina). Koordinator AMPM Madina, Alfin Sahani, mendesak pemerintah dan pihak terkait melakukan audit menyeluruh terhadap Dapur MBG Polres Madina 1.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Alfin, pemeriksaan tidak boleh hanya berfokus pada kondisi kesehatan siswa. Seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan baku hingga makanan dikonsumsi, juga perlu ditelusuri.
“Jangan cuma siswa yang diperiksa. Sistem yang menghasilkan makanannya juga harus dibongkar. Jangan sibuk mencari siapa yang sakit, tapi lupa memeriksa bagaimana makanan itu diproduksi,” kata Alfin Sahani kepada awak media, Kamis (10/9/2026).
Keluhan awal dilaporkan dialami dua siswa pada Rabu (9/9/2026), sebelum jumlah siswa yang mengalami keluhan bertambah menjadi 24 orang. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, makanan yang dikonsumsi para siswa berasal dari Dapur MBG Polres Madina 1.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat hasil pemeriksaan medis maupun uji laboratorium yang memastikan adanya hubungan sebab-akibat antara makanan tersebut dengan keluhan kesehatan para siswa. Karena itu, Alfin meminta pemerintah tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dan menjadikan pemeriksaan medis serta uji laboratorium sebagai dasar untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
“Bongkar dari hulu sampai hilir. Bahan baku dari mana, siapa yang mengolah, bagaimana kebersihan dapur dan peralatan, kapan dimasak, bagaimana penyimpanan dan distribusinya. Semua harus terang,” ujarnya.
AMPM Madina juga meminta sisa makanan, apabila masih tersedia, segera diamankan untuk kepentingan pemeriksaan dan pengujian laboratorium. Audit, kata Alfin, juga perlu mencakup asal bahan baku, kebersihan petugas dan peralatan, proses pengolahan, suhu penyimpanan, pengemasan, hingga waktu serta mekanisme distribusi makanan ke sekolah.
Menurut Alfin, Dapur MBG Polres Madina 1 seharusnya menjadi contoh dalam penerapan standar keamanan pangan, mengingat program tersebut menyasar anak-anak dan kelompok penerima manfaat lainnya.
“Kalau namanya Polres Madina 1, ekspektasi publik tinggi. Harusnya paling disiplin, paling siap diaudit dan paling transparan,” tegasnya.
Alfin mendesak Badan Gizi Nasional, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dan Dinas Kesehatan melakukan evaluasi secara menyeluruh dan tidak berhenti pada pemeriksaan administratif. Ia menyebut sedikitnya ada lima langkah yang perlu dilakukan, yakni mengamankan dan menguji sampel makanan, mengaudit rantai produksi, memeriksa proses distribusi dan penyimpanan, menelusuri kondisi kesehatan siswa, serta menyampaikan hasil pemeriksaan secara transparan kepada publik.
“Evaluasi bukan sekadar rapat, foto atau berita acara. Harus ada audit, uji laboratorium, hasil, perbaikan dan pertanggungjawaban. Kalau ditemukan kelalaian, jangan berlindung di balik sistem,” katanya.
Ia juga mendorong seluruh dapur MBG menerapkan sistem keterlacakan atau traceability, sehingga makanan dapat ditelusuri sejak bahan baku diterima, proses pengolahan, penyimpanan, pengiriman hingga dikonsumsi.
“Programnya besar, maka pengawasannya jangan kecil. Jangan cuma hitung berapa kotak yang keluar. Yang dihitung itu apakah makanannya aman dan benar-benar melindungi anak-anak,” ujar Alfin.
Alfin menegaskan kritik tersebut bukan bentuk penolakan terhadap Program MBG. Menurutnya, AMPM Madina justru mendorong agar program pemenuhan gizi bagi anak-anak berjalan dengan standar keamanan pangan yang ketat, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Rakyat bukan menolak MBG. Rakyat cuma bilang: kalau mau kasih makan anak kami, pastikan makanannya aman. Anak-anak bukan angka distribusi. Mereka masa depan. Jangan tunggu korban bertambah baru sibuk berbenah,” pungkas Alfin Sahani.
Penulis : LBS86/ SP
Editor : REDAKSI


































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































