MEDAN, LIBAS86.COM — Polemik terkait Chapel di lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU) yang ramai diperbincangkan di media sosial dan sejumlah pemberitaan akhirnya mendapat perhatian serius dari Gerakan Kristen Indonesia Raya (Gekira) Sumatera Utara bersama Partai Gerindra Sumut. Isu yang berkembang bahkan disebut mulai menyeret nama Presiden RI, Prabowo Subianto, sehingga mendorong klarifikasi langsung ke pihak kampus.
Ketua Gekira Sumut, John Sari Haloho, mengatakan pihaknya sengaja turun ke USU untuk memperoleh penjelasan utuh mengenai persoalan Chapel USU yang belakangan memicu kontroversi. Menurutnya, penyelesaian persoalan internal kampus harus dilakukan secara proporsional tanpa menggiring opini yang dapat memperkeruh suasana, apalagi menyeret nama kepala negara dalam polemik tersebut.
“Kami turun karena narasi yang berkembang sudah mulai menyinggung nama Presiden Bapak Prabowo Subianto. Kami meminta apa pun persoalan terkait Chapel USU ini jangan dibawa-bawa ke ranah politik ataupun mengaitkan Presiden,” ujar John Sari Haloho saat memberikan keterangan, Senin (25/5/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam agenda klarifikasi itu, John Sari Haloho didampingi Wakil Ketua DPD Gerindra Sumut Robert Lumban Tobing dan bertemu dengan unsur pengurus Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU, pengelola Yayasan Chapel USU, hingga mantan pejabat kampus. Dari hasil dialog tersebut, mereka memperoleh penjelasan bahwa tidak pernah ada pelarangan ibadah maupun penutupan rumah ibadah di lingkungan kampus USU. Sebaliknya, pihak universitas disebut berkomitmen menghadirkan fasilitas kerohanian yang lebih representatif bagi sivitas akademika Kristen.
Pihak yang hadir dalam pertemuan juga menjelaskan bahwa Chapel USU selama ini berfungsi sebagai fasilitas kerohanian kampus lintas denominasi Kristen, termasuk untuk ibadah, pembinaan rohani, hingga sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa Kristen. Namun, kampus disebut tidak pernah memberikan izin perubahan status fasilitas tersebut menjadi gereja, meskipun tetap membuka ruang bagi aktivitas ibadah mahasiswa Kristen di lingkungan universitas.
Gerindra dan Gekira Sumut pun mengimbau seluruh elemen masyarakat agar tidak memperkeruh persoalan dengan narasi provokatif atau bernuansa SARA. Dengan jumlah mahasiswa Kristen di USU yang diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 orang, kebutuhan fasilitas kerohanian dinilai penting untuk menunjang kehidupan akademik dan spiritual. Mereka berharap persoalan Chapel USU dapat diselesaikan melalui dialog terbuka, komunikasi sehat, dan semangat persaudaraan tanpa politisasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Penulis : LBS86/ REL
Editor : REDAKSI
































































































































































































































































































































































































































































































































































































































