DELI SERDANG, LIBAS86.COM — Sebuah kisah inspiratif datang dari dunia pendidikan Islam di Sumatera Utara. Seorang penghafal Al-Qur’an 30 juz, Ustadz Dr. Zulfahmi Hasibuan, S.Pd.I., M.Pd, resmi meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Rabu (4/3/2026).
Disertasi yang ia pertahankan berjudul “Implementasi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an untuk Meningkatkan Pembersihan Jiwa dalam Perspektif Konseling Islami di SMP Islam Kabupaten Deli Serdang.” Dalam sidang doktoralnya, Zulfahmi memaparkan argumentasi yang tajam, sistematis, dan berbasis riset mendalam mengenai bagaimana pendidikan tahfidz dapat menjadi metode efektif dalam membentuk karakter dan membersihkan jiwa peserta didik.
Ustadz Zulfahmi dikenal sebagai akademisi sekaligus aktivis pendidikan Islam yang telah lama berkecimpung di berbagai pesantren, lembaga pendidikan, serta organisasi keislaman. Ia merupakan alumni Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, salah satu pesantren terkemuka yang banyak melahirkan tokoh pendidikan dan dakwah di Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, Zulfahmi juga aktif dalam organisasi keagamaan. Ia menjabat sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Deli Serdang Komisi Pendidikan, sekaligus Ketua Umum Ikatan Silaturahim Hafizh Hafizhah (ISLAH) Kabupaten Deli Serdang, sebuah organisasi yang menaungi dan memperkuat jaringan para penghafal Al-Qur’an di daerah tersebut.
Menurutnya, perkembangan lembaga pendidikan tahfidz saat ini menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Ia menilai pendidikan berbasis Al-Qur’an bukan sekadar program religius, tetapi juga menjadi kekuatan strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang berkarakter, berakhlak, dan berintegritas bagi kemajuan daerah, bangsa, dan negara.
“Pembelajaran tahfidz memiliki dampak besar dalam proses tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Pendidikan Al-Qur’an mampu membentuk peserta didik secara holistik—baik dari sisi intelektual, emosional, spiritual maupun sosial,” ujar Zulfahmi.
Pesan Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya penyucian jiwa dalam membangun manusia yang berkualitas. Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Perjalanan akademik Ustadz Dr. Zulfahmi Hasibuan menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan hanya dihafal, tetapi juga mampu melahirkan gagasan ilmiah dan kontribusi nyata bagi pendidikan serta peradaban umat.
Penulis : LBS86/ YON
Editor : REDAKSI




















