MEDAN, LIBAS86.COM – Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara Harli Siregar menghadiri acara puncak Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Sumatera Utara yang digelar di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara, Sabtu (7/2/2026). Kehadiran Kajati Sumut bersama Bobby Nasution menandai komitmen negara dalam merawat ruang dialog antara aparatur penegak hukum dan gerakan mahasiswa.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara serta sejumlah undangan lintas unsur. Momentum Milad HMI ke-79 tidak hanya menjadi perayaan organisasi, tetapi juga forum refleksi peran strategis mahasiswa dalam mengawal demokrasi, supremasi hukum, dan kepentingan publik di daerah.
Kajati Sumut menegaskan bahwa organisasi mahasiswa memiliki posisi penting sebagai mitra kritis institusi penegak hukum. Menurutnya, keberadaan HMI menjadi ruang dialog eksternal yang konstruktif dalam membangun budaya hukum, memperkuat integritas aparatur, serta meningkatkan kesadaran hukum di tengah masyarakat. “Mahasiswa bukan penonton, tetapi bagian dari ekosistem pengawasan sosial yang sehat,” ujar Harli Siregar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, Harli menyampaikan apresiasi atas dukungan dan penilaian positif HMI terhadap kinerja Kejati Sumut selama ini. Ia menilai kritik yang disampaikan mahasiswa, sepanjang berbasis data dan etika, justru menjadi pengingat penting bagi institusi agar tetap berada pada rel hukum dan kepentingan publik.
Dalam konteks pemberantasan tindak pidana korupsi, Kajati Sumut berharap HMI terus berperan aktif sebagai kekuatan moral dan intelektual. Dukungan publik, termasuk dari kalangan mahasiswa, dinilai krusial untuk menjaga konsistensi penegakan hukum yang profesional, transparan, dan berkeadilan di Sumatera Utara.
Peringatan Milad ke-79 HMI ini sekaligus menegaskan bahwa sinergi antara negara dan gerakan mahasiswa dapat berjalan sejajar: saling menguatkan tanpa menghilangkan fungsi kritis. Di tengah tuntutan publik akan penegakan hukum yang bersih dan berintegritas, ruang dialog semacam ini menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar seremoni.
Penulis : LBS86/ REL
Editor : REDAKSI




















