MEDAN, LIBAS86.COM – Pemerintah Kota Medan kian serius membenahi wajah kota. Tahun ini, 12 ruas jalan utama ditargetkan bebas dari kabel udara melalui program Medan Rapi Tanpa Kabel (Merata)—sebuah langkah yang bukan hanya soal estetika, tetapi juga keselamatan dan kenyamanan ruang publik. Di balik percepatan ini, Gibson Panjaitan tampil sebagai figur kunci yang mendorong koordinasi lintas sektor agar penataan berjalan rapi dan berkelanjutan.
Penataan dimulai secara simbolis di Jalan Zainul Arifin, Senin (9/2/2026), dengan pemotongan kabel dan pembongkaran tiang utilitas. “Kabel udara yang semrawut tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga berpotensi membahayakan dan mengurangi kualitas ruang publik. Karena itu kami pindahkan ke bawah tanah melalui sistem utilitas terpadu,” ujar Gibson di lokasi kegiatan.
Menurutnya, fokus pekerjaan meliputi pemutusan kabel udara, pembongkaran tiang utilitas yang tidak berfungsi atau menghalangi ruang publik, serta pemindahan jaringan ke bawah tanah. Hingga kini, Jalan Dr. Mansyur telah rampung sepenuhnya. “Di Jalan Juanda progres sudah sekitar 30 persen dan kami targetkan selesai bulan ini. Sementara di Jalan Imam Bonjol, pekerjaan masih berupa penggalian dan penyambungan jaringan bawah tanah,” jelas Gibson.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain empat ruas tersebut, penataan juga dilakukan di Jalan Bhayangkara, Gaperta, Karya Wisata, Metereologi, GM Panggabean, Kejaksaan, Candi Borobudur, dan Candi Mendut. Pada sejumlah lokasi, sebagian jaringan utilitas bahkan sudah tersambung ke sistem bawah tanah. “Ini pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya langsung dirasakan masyarakat—trotoar lebih lapang dan lingkungan lebih tertib,” tambahnya.
Untuk menekan gangguan dan meningkatkan efisiensi, Pemko Medan mengintegrasikan penataan kabel dengan proyek penataan trotoar melalui skema joint program di enam ruas jalan. “Kami lakukan bersamaan agar penggalian tidak berulang. Hasilnya lebih rapi, waktunya lebih singkat, dan masyarakat tidak terganggu berkepanjangan,” tegas Gibson.
Meski optimistis seluruh target rampung tahun ini, Gibson mengakui tantangan terbesar berada di kawasan pusat kota. “Karena lokasinya padat aktivitas, koordinasi dengan penyelenggara utilitas yang tergabung dalam Apjatel kami perketat. Prinsipnya, galian harus rapi, cepat, dan tidak meresahkan warga,” katanya. Ia menutup dengan penegasan komitmen pemerintah kota: “Penataan ini adalah ikhtiar menghadirkan kota yang tertib, aman, dan inklusif—ruang publik yang benar-benar berpihak pada warga.”
Penulis : LBS86/ REL/ RG
Editor : REDAKSI




















