MEDAN, LIBAS86.COM – Salah satu Dai Muda Kota Medan, Fahmi Huseini Lubis, SE, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Da’i Muda Indonesia (IDMI) Kota Medan, dihadirkan dalam agenda ceramah menyambut berbuka puasa di Cafe Simpul Kota, kawasan Kesawan, Kota Medan. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan syiar Ramadan yang menyasar kalangan muda, khususnya generasi milenial dan Gen-Z, dalam suasana santai namun tetap sarat nilai keislaman.
Sebelum memulai tausiyah, Ustadz Fahmi membuka dengan pantun khas yang mengangkat identitas Kota Medan, termasuk ikon Istana Maimun dan Masjid Raya Al Mashun, sekaligus memperkenalkan Simpul Kota sebagai ruang berbuka yang estetik dan nyaman. Pendekatan komunikatif ini disambut antusias jamaah yang didominasi anak muda.
Dalam ceramahnya, Ustadz Fahmi mengulas makna puasa berdasarkan Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menegaskan bahwa perintah puasa secara eksplisit ditujukan kepada orang-orang beriman. “Ibadah puasa adalah ibadahnya orang beriman. Tidak semua orang mampu menjalankannya dengan baik dan benar,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, puasa (al-imsak) berarti menahan, sementara secara terminologi adalah menahan diri dari perbuatan keji dan munkar, dengan tujuan akhir meraih derajat ketakwaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ciri orang bertakwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta konsisten dalam kebajikan. Dalam konteks kekinian, ia mengajak generasi muda untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri, bukan sekadar rutinitas tahunan. Menurutnya, masa muda merupakan fase paling strategis dalam membangun kualitas iman, ilmu, dan karakter.
Mengutip hadis Rasulullah SAW tentang “Ightanim Khomsan Qobla Khomsin; Syababaka Qobla Haroomika” (manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu), Ustadz Fahmi mengingatkan bahwa setiap manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas empat hal: umur, tubuh, ilmu, dan harta. Ia menyebut, energi, semangat, serta peluang panjang yang dimiliki pemuda harus diarahkan pada produktivitas dan pengabdian yang bernilai ibadah.
Usai kajian, Ustadz Fahmi menyampaikan apresiasinya terhadap konsep Cafe Simpul Kota yang menghadirkan kajian Gen-Z sebelum berbuka puasa dan live musik religi. Ia menilai model dakwah kultural seperti ini efektif menjangkau kalangan milenial tanpa mengurangi substansi pesan agama. “Jarang ada cafe dengan konsep seperti ini. Tempatnya nyaman, estetik, dan tetap menghadirkan nilai spiritual,” ungkapnya kepada awak media.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa dakwah Ramadan di Kota Medan terus beradaptasi dengan ruang dan karakter generasi muda, menghadirkan pesan keagamaan yang kontekstual, inklusif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah.
Penulis : LBS86/ REL/ YON
Editor : REDAKSI




















