DELI SERDANG, LIBAS86.COM – Di balik sebutan “lembaga pendidikan keagamaan”, banyak pesantren di wilayah pinggiran masih bertahan dalam kondisi serba terbatas. Minim sentuhan program berkelanjutan, tak jarang mereka justru lebih sering mengandalkan uluran tangan pihak swasta ketimbang kehadiran negara.
Realitas itu tergambar di Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Baitul Qur’an, Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang. Pada Jumat (9/1/2026), pondok pesantren tersebut menerima bantuan melalui program Jumat Berkah dari PT Macan Sejahtera Cahaya.
Bantuan yang disalurkan berupa Al-Qur’an, beras, mi instan, dan telur—kebutuhan dasar yang kerap luput dari perhatian dalam narasi besar pembangunan pendidikan. Namun justru dari kebutuhan sederhana inilah roda kehidupan santri terus berputar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang patut dicatat, penyerahan bantuan tidak dilakukan secara simbolik atau sekadar dokumentasi. Direktur Utama PT Macan Sejahtera Cahaya, Dwi Purwanti, SE, bersama Direktur Operasional Kasim, SH, MH, hadir langsung di lokasi. Sebuah langkah yang kontras dengan praktik tanggung jawab sosial yang sering berhenti di laporan administratif.
Direktur Operasional PT Macan Sejahtera Cahaya, Kasim, menyebut kegiatan tersebut sebagai agenda rutin perusahaan.
“Ini bagian dari komitmen kami melalui program Jumat Berkah. Kami memilih hadir langsung, karena kami ingin melihat dan memahami kondisi masyarakat, khususnya lembaga pendidikan keagamaan,” ujar Kasim kepada libas86.com.
Ia menambahkan, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu operasional pondok pesantren dan meringankan beban para pengelolanya.
Namun di sisi lain, kehadiran perusahaan swasta di ruang-ruang yang seharusnya mendapat perhatian serius pemerintah memunculkan pertanyaan mendasar: di mana peran negara saat pesantren di pelosok masih bergantung pada bantuan beras dan telur?
Pihak Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Baitul Qur’an menyambut bantuan tersebut dengan rasa syukur dan mengapresiasi kepedulian PT Macan Sejahtera Cahaya. Bagi mereka, bantuan itu bukan soal nilai, melainkan keberlanjutan hidup dan pendidikan santri.
Program Jumat Berkah yang dijalankan PT Macan Sejahtera Cahaya pada akhirnya bukan hanya cerita tentang kepedulian korporasi, tetapi juga cermin bagi para pemangku kebijakan. Bahwa di balik jargon pembangunan dan anggaran pendidikan, masih ada pesantren yang bertahan dengan kesederhanaan—menunggu siapa yang benar-benar hadir.
Penulis : LBS86/ REL/ RG
Editor : REDAKSI





















