MEDAN, LIBAS86.COM – Di sebuah ruang sederhana yang hangat oleh kenangan, seorang anak berlutut di hadapan kedua orang tuanya. Kepalanya tertunduk, tangannya terkatup, menyentuh kasih yang tak pernah meminta balasan. Momen sungkem itu bukan sekadar tradisi, melainkan bahasa paling jujur dari cinta dan bakti—cinta yang lahir sebelum dunia mengenal namanya.
Sang ibu mengelus kepala anaknya dengan tangan yang telah renta, sementara sang ayah menatap penuh keteguhan. Di sanalah cinta mengambil dua rupa: lembut yang menenangkan dan kokoh yang menguatkan. Tak ada kata yang diucapkan, namun diam itu berbicara jauh lebih dalam dari seribu kalimat.
Bagi Humpri Bangun, momen itu adalah kepulangan paling hakiki. Bukan pulang ke rumah, melainkan pulang ke asal—ke doa, pengorbanan, dan cinta tanpa syarat. Ia menyadari, sejauh apa pun langkah kaki melangkah, sejauh apa pun hidup mengajaknya berkelana, ada dua sosok yang selalu berdiri sebagai penjaga sunyi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Cinta seorang ibu itu menenangkan dan cinta seorang ayah itu menguatkan. Di hadapan mereka, saya kembali menjadi anak kecil yang belajar arti hidup,” ucap Humpri Bangun dengan suara bergetar.
Ia mengakui, banyak hal dalam hidup yang bisa diraih dengan kerja keras, namun ada satu hal yang tak pernah bisa dibeli atau diganti—restu orang tua. Doa ibu adalah pelukan paling aman, dan nasihat ayah adalah kompas yang tak pernah salah arah.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering lupa pada akar, momen sungkem ini menjadi pengingat: bahwa keberhasilan sejati bukan hanya tentang pencapaian, tetapi tentang sejauh mana seseorang tetap ingat pada siapa yang pertama kali mengajarkannya berjalan, berdoa, dan bertahan.
Dan pada akhirnya, air mata yang jatuh hari itu bukan tanda kelemahan. Ia adalah bukti cinta—cinta yang tumbuh diam-diam, bertahan dalam waktu, dan abadi sepanjang hidup.
Penulis : LBS86/ RYANT GOBEL
Editor : REDAKSI





















