Terowongan ke Istana Maimun yang Tak Pernah Ditemukan: Antara Mitos, Ingatan Kolektif, dan Pesona Gedung Warenhuis Medan

- Penulis

Minggu, 28 Desember 2025 - 23:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, LIBAS86.COM – Di balik tembok tua Gedung Warenhuis di Jalan Hindu, sebuah cerita turun-temurun terus hidup dari generasi ke generasi. Cerita tentang terowongan rahasia yang konon menghubungkan gedung bersejarah itu dengan Istana Maimun. Kisah ini telah lama menjadi bagian dari legenda urban Kota Medan—menggugah rasa ingin tahu warga, memancing imajinasi, sekaligus memelihara romantisme masa lalu.

Namun, hingga kini, cerita tersebut masih berdiri di wilayah mitos.

Berdasarkan penelusuran Tim Media LIBAS86.COM, Minggu (28/12/2025), Gedung Warenhuis yang dibangun pada tahun 1916 oleh Pemerintah Kolonial Belanda memang memiliki lantai bawah tanah atau basement. Fakta inilah yang selama puluhan tahun memicu spekulasi publik tentang keberadaan pintu rahasia atau jalur bawah tanah menuju pusat kekuasaan Kesultanan Deli di Istana Maimun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang pelaku sejarah Kota Medan menuturkan, keberadaan basement kerap disalahartikan sebagai akses terowongan. “Basement itu bagian dari desain bangunan komersial Eropa pada masa itu, fungsinya untuk penyimpanan barang dan sistem utilitas, bukan jalur rahasia,” ujarnya.

Baca Juga :  Dirut RSU T. Mansyur Pemko Tanjungbalai Ucapkan Selamat Kepada P3K Paroh Waktu Yang Baru Saja Dilantik

Legenda terowongan bawah tanah ini juga sering dikaitkan dengan Masjid Raya Al-Mashun dan sejumlah gedung kolonial lain di pusat kota. Dalam cerita rakyat, lorong itu disebut-sebut sebagai jalur aman sultan atau elite kolonial untuk bergerak tanpa terpantau.

Namun, sejarawan Kota Medan menegaskan bahwa cerita tersebut tidak memiliki dasar ilmiah maupun bukti arkeologis. “Medan berdiri di atas tanah rawa dengan permukaan air tanah yang tinggi. Pada awal abad ke-20, teknologi untuk membangun terowongan panjang dan stabil di kondisi seperti ini sangat terbatas,” jelasnya.

Penelusuran LIBAS86.COM juga menguatkan fakta bahwa selama proses restorasi Gedung Warenhuis oleh Pemerintah Kota Medan pada 2024–2025, tidak ditemukan bukti fisik berupa lorong, pintu tersembunyi, ataupun struktur bawah tanah yang mengarah ke Istana Maimun.

Baca Juga :  Di Tengah Lumpur Aceh Tamiang, Uluran Tangan Pemko Medan Datang Membawa Harapan.

Seorang arsitek konservasi yang terlibat dalam pemugaran gedung menyebutkan, seluruh bagian bawah bangunan telah diperiksa. “Jika ada terowongan, setidaknya jejak struktur atau penguat dinding pasti terlihat. Tapi tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh salah satu keturunan Sultan Deli yang enggan disebutkan namanya. Ia menyatakan bahwa dalam cerita keluarga dan catatan internal Kesultanan, tidak pernah ada kisah resmi tentang terowongan yang menghubungkan Istana Maimun dengan Gedung Warenhuis.

“Setahu kami, tidak ada cerita turun-temurun di keluarga tentang terowongan itu. Istana Maimun dibangun sebagai simbol keterbukaan dan kebesaran Kesultanan, bukan untuk sembunyi atau melarikan diri,” ujarnya. Menurutnya, kisah terowongan lebih berkembang di masyarakat umum sebagai cerita rakyat yang tumbuh seiring waktu.

Meski demikian, ia mengakui legenda tersebut telah menjadi bagian dari warna sejarah Medan. “Selama tidak mengaburkan fakta sejarah, kami memandangnya sebagai bagian dari imajinasi masyarakat terhadap masa lalu kota ini,” tambahnya.

Baca Juga :  “Jalan dan Drainase Menyentuh Hidup Warga”: Gibson Panjaitan Menapaki Pengabdian di SDABMBK Medan.

Meski tidak terbukti secara ilmiah, kisah terowongan tetap hidup di tengah masyarakat. Cerita itu berpindah dari satu generasi ke generasi lain, menjadi bagian dari romantisme sejarah Kota Medan.

“Ini bukan soal benar atau salah, tapi bagaimana masyarakat membangun ingatan kolektif terhadap kotanya,” ujar sejarawan tersebut. “Mitos seperti ini justru menunjukkan kecintaan warga terhadap sejarah dan bangunan cagar budaya.”

Di antara fakta dan fiksi, Gedung Warenhuis dan Istana Maimun tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang Kota Medan. Dan di bawah langkah kaki warga yang melintas setiap hari, tersimpan kisah—bukan tentang terowongan yang nyata, melainkan tentang warisan cerita yang memperkaya identitas kota.

Penulis : LBS86/ RG

Editor : REDAKSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Wali Kota Bersama Forkopimda Tanjungbalai Kompak Beri Kejutan di Hari Ulang Tahun Ke-43 Dan Lanal TBA, Letkol Laut (P) Agung Dwi Handoko
Gibson Panjaitan: Dari Pembenahan Data hingga Tekad Menyudahi Banjir Medan.
Pasca Pembakaran Mapolsek, Kapolres Madina Tegaskan Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih Saat Kunjungan Tim Astamarena Mabes Polri
Rico Waas: Dinas SDABMBK Harus Punya Data Mutakhir Kondisi Drainase dan Sungai-sungai Besar di Medan.
Belajar dari Banjir Besar 2025, Rico Waas Perintahkan Penguatan Total Kesiapsiagaan Bencana.
Warenhuis Menunggu Arah, Publik Menunggu Jawaban: Kadis Pariwisata Medan Masih “Rapat”.
Dari Tanah Kelahiran Bengkulu hingga Mengabdi di Madina, Jejak Karier AKBP Bagus Priandy
PKC PMII Sumut Kecam Tambang Ilegal di Madina, Kapolres Baru Diminta Bertindak Tegas Tanpa Tebang Pilih
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 11:03 WIB

Wali Kota Bersama Forkopimda Tanjungbalai Kompak Beri Kejutan di Hari Ulang Tahun Ke-43 Dan Lanal TBA, Letkol Laut (P) Agung Dwi Handoko

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:08 WIB

Gibson Panjaitan: Dari Pembenahan Data hingga Tekad Menyudahi Banjir Medan.

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:01 WIB

Pasca Pembakaran Mapolsek, Kapolres Madina Tegaskan Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih Saat Kunjungan Tim Astamarena Mabes Polri

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:22 WIB

Rico Waas: Dinas SDABMBK Harus Punya Data Mutakhir Kondisi Drainase dan Sungai-sungai Besar di Medan.

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:07 WIB

Belajar dari Banjir Besar 2025, Rico Waas Perintahkan Penguatan Total Kesiapsiagaan Bencana.

Berita Terbaru